Perang Timur Tengah: Perspektif Intelijen

Sabtu, 14 Maret 2026 – 14:30 WIB
Perang Timur Tengah: Perspektif Intelijen - JPNN.com Jakarta
Aji Jaya Bintara, SE, Msc, Phd (candidate), Praktisi Intelijen dan Bisnis, Mahasiswa Doktoral Universitas Pertahanan. Foto: Dok Pribadi

jakarta.jpnn.com - Oleh: Aji Jaya Bintara, SE, Msc, Phd (candidate)

Praktisi Intelijen dan Bisnis, Mahasiswa Doktoral Universitas Pertahanan 

Perang AS-Israel vs Iran telah memasuki minggu ketiga. Operasi Epic Fury berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Iran membalas melalui operasi True Promise 4.

Transisi kepemimpinan terjadi, Majelis Ahli menunjuk putra Ali, Motjaba sebagai suksesi. Motjaba, bukan figur sembarangan.

Dia adalah pembisik strategis Ali Khamenei, dekat dengan IRGC (militer Iran), dan lebih radikal dalam konteks perang melawan AS-Israel. 

Beyond Missile War

Dalam teori intelijen, Ancaman (Threat) adalah proksi dari Niat (Intention) + Kemampuan (Capability) + Keadaan (Circumtances).

Serangan pertama, Mossad (agensi Israel) dan CIA (agensi AS) berhasil melumpuhkan Iran. Lebih dari ribuan misil diluncurkan, utamanya serangan pagi hari yang menewaskan Imam Khamenei dan keluarga, serta beberapa petinggi militer Iran.

Perang AS-Israel vs Iran telah memasuki minggu ketiga. Operasi Epic Fury berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Facebook JPNN.com Jakarta Twitter JPNN.com Jakarta Pinterest JPNN.com Jakarta Linkedin JPNN.com Jakarta Flipboard JPNN.com Jakarta Line JPNN.com Jakarta JPNN.com Jakarta
JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jakarta di Google News